3 Makna di Balik Pakaian Ihram menurut Ibnu Abbas

Kategori : Umrah, Ditulis pada : 07 Februari 2026, 08:32:48

WhatsApp Image 2026-02-07 at 08.40.16 (1).jpeg

Setiap jamaah yang menunaikan ibadah haji pasti memasuki keadaan ihram, yang ditandai dengan niat serta penggunaan pakaian ihram. Dalam ajaran Islam, ihram merupakan kondisi ketika seseorang telah menetapkan niat untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah. Sejak niat tersebut diucapkan, berbagai larangan ihram mulai berlaku dan wajib dijaga hingga seluruh rangkaian ibadah selesai.

Pakaian ihram umumnya identik dengan warna putih. Bagi laki-laki, pakaian ihram berupa kain tidak berjahit yang dililitkan ke tubuh, sedangkan bagi perempuan berupa busana yang menutup aurat sesuai syariat. Di balik kesederhanaan pakaian tersebut, tersimpan hikmah yang sangat mendalam.

Ibnu Abbas, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan julukan “lautan ilmu”, memiliki perenungan khusus terkait makna pakaian ihram. Dalam kitab Hasyiyah I’anatut Thalibin, Imam Abu Bakr al-Bakri mengutip dari ar-Raudl al-Faiq bahwa suatu ketika Ibnu Abbas ditanya mengenai hikmah di balik beberapa praktik dalam ibadah haji.

Beliau menjelaskan bahwa tidak satu pun amalan haji dan hal-hal yang berkaitan dengannya melainkan mengandung hikmah yang agung, kenikmatan yang sempurna, serta rahasia yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Terkait pakaian ihram, Ibnu Abbas menguraikan tiga makna utama.

Pertama, kebiasaan manusia ketika mendatangi sesamanya adalah mengenakan pakaian terbaik dan paling membanggakan. Namun, perintah mengenakan pakaian ihram berupa kain putih tanpa jahitan justru bertolak belakang dengan kebiasaan tersebut. Hal ini menjadi isyarat bahwa tujuan mendatangi Allah tidaklah sama dengan tujuan mendatangi makhluk.

Jika dipahami lebih jauh, mendatangi Allah sebagai Sang Pencipta menuntut sikap dan perilaku yang berbeda dibandingkan ketika berhadapan dengan sesama manusia. Manusia sering mengenakan pakaian bagus demi wibawa atau kenyamanan sosial, karena terikat dengan nilai-nilai duniawi. Sementara itu, Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan tampilan lahiriah hamba-Nya. Nilai yang Allah kehendaki dari manusia adalah ketakwaan, sesuatu yang tidak dapat dinilai dengan mata semata.

Kedua, pakaian ihram mengajarkan seorang hamba untuk melepaskan diri dari keterikatan terhadap harta dan atribut duniawi. Keadaan ini menyerupai seorang bayi yang lahir ke dunia tanpa membawa apa pun. Saat berihram, seseorang menanggalkan simbol-simbol dunia dan hanya menyisakan pakaian untuk menutup aurat.

Makna ini menunjukkan bahwa ihram bukan sekadar pakaian, melainkan simbol pelepasan diri dari gemerlap dunia yang kerap membelenggu kesadaran manusia.

Ketiga, kondisi ihram menyerupai keadaan manusia kelak ketika berdiri di hadapan Allah untuk menerima hisab. Allah SWT berfirman dalam Surah an-Nisa ayat 40 bahwa Dia tidak akan menganiaya hamba-Nya walau sebesar zarrah. Dalam Surah al-An’am ayat 94 juga ditegaskan bahwa manusia akan datang menghadap Allah secara sendiri-sendiri sebagaimana saat pertama kali diciptakan.

Tiga perenungan Ibnu Abbas ini mengajarkan bahwa ihram sebagai awal ibadah haji mengajak manusia untuk melatih kesadaran spiritual: melepaskan diri dari dominasi dunia, meskipun masih hidup di dalamnya. Walau manusia tidak dapat sepenuhnya lepas dari urusan duniawi, namun kesadaran dan hati tidak seharusnya dikuasai olehnya. Wallahu a’lam bish-shawab.


Ingin merasakan langsung perjalanan spiritual yang penuh makna seperti ini?
Mari wujudkan niat suci Anda menuju Baitullah bersama Sabatours, mitra perjalanan umrah yang amanah dan berpengalaman.

? Hubungi 0817 7510 0981
untuk konsultasi umroh dan mendapatkan pendampingan terbaik menuju Tanah Suci bersama Sabatours.

Sumber: https://jatim.nu.or.id/keislaman/3-makna-di-balik-pakaian-ihram-menurut-ibnu-abbas-8ng2t

Chat Dengan Kami
built with : https://safar.co.id