Hadits Keutamaan Ibadah Haji Dan Umrah
Penjelasan Hadits: Keutamaan Umrah dan Haji Mabrur
Tulisan dalam rubrik hadits kali ini merupakan syarah atau penjelasan dari sebuah hadits yang kami sadur dan terjemahkan secara bebas — dengan beberapa penyesuaian tanpa mengubah maksud aslinya — dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (5/851–868), karya Syaikh Abdullah bin Shalih al‑Fauzan, cetakan Daar Ibnil Jawzi, edisi ke‑8, Rabi’ul Awwal 1428 H, Dammam, KSA.
Hadits yang dibahas adalah sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ
Artinya:
“Umrah yang satu ke umrah berikutnya merupakan penghapus dosa-dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
1. Takhrij Hadits
Imam al‑Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya pada bab tentang umrah, khususnya pada bab Wujubil Umrah wa Fadhliha, no. 1773. Imam Muslim pun mencantumkannya dalam Shahih-nya, no. 1349, melalui jalur Sumayy — maula Abu Bakar bin Abdurrahman — dari Abu Shalih as‑Samman, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu secara marfu’.
2. Keutamaan Memperbanyak Umrah
Hadits ini menjadi dalil yang menjelaskan bahwa memperbanyak amalan umrah merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, karena ia menjadi sebab penghapus dosa. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, bukan dosa besar.
Mayoritas ulama membolehkan seseorang melakukan umrah berkali‑kali dalam satu tahun. Hal ini dipahami dari penggunaan lafaz “umrah ke umrah berikutnya”, yang menandakan umrah tidak dibatasi seperti haji. Jika umrah hanya boleh sekali setahun, tentu Nabi akan menyebutkan “haji ke haji berikutnya”. Karena itu, umrah dapat dilakukan berulang selama tidak ada larangan syar’i.
Umrah juga tidak terikat waktu tertentu sebagaimana haji, sehingga kapan pun seseorang mampu, ia boleh melaksanakannya.
Adapun Imam Malik berpendapat makruh bila seseorang melakukan umrah dua kali dalam setahun. Pendapat ini juga dinukil dari sebagian ulama salaf. Namun, perbuatan Nabi yang tidak mengulang umrah dalam setahun bukanlah dalil pelarangan, sebab bisa jadi beliau meninggalkannya karena faktor maslahat dan kekhawatiran memberatkan umat.
Dalil lain yang menguatkan anjuran memperbanyak umrah adalah hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah bersabda:
تَابِعُوا بين الحجِّ والعمرةِ فإنَّهما ينفيانِ الفقرَ والذنوبَ كما يَنفي الكيرُ خَبَثَ الحديدِ والذهبِ والفضةِ، وليس للحجةِ المبرورةِ ثوابٌ إلا الجنةُ
Artinya:
“Lakukanlah haji dan umrah secara berdekatan (berulang), karena keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa, sebagaimana tungku pembersih menghilangkan kotoran dari besi, emas, dan perak. Dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.”
3. Keutamaan Haji Mabrur
Hadits utama di atas menegaskan tingginya kedudukan haji mabrur. Imam Ibnu Abdil Barr menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang terbebas dari riya, sum’ah, perbuatan kotor, dan kemaksiatan, serta dilakukan dengan harta yang halal.
Sifat-sifat Haji Mabrur
- Ikhlas — seluruh niat diarahkan hanya kepada Allah.
- Menggunakan harta halal — sebagaimana sabda Nabi: إِنَّاللهَطَيِّبٌوَلَايَقْبَلُإِلَّاطَيِّبًاإِنَّ اللهَ طَيِّبٌ وَلَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
- Menjauhi maksiat, bid’ah, dan hal-hal yang dilarang, sesuai firman Allah: فَلَارَفَثَوَلَافُسُوقَوَلَاجِدَالَفِيالْحَجِّفَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
- Berakhlak mulia, bersikap lembut, rendah hati, dan menjaga perilaku selama perjalanan.
- Mengagungkan syiar-syiar Allah, seperti manasik haji, tempat-tempat suci, dan seluruh tanda-tanda agama.
Allah memerintahkan pengagungan terhadap hurumatullah dan syi’ar-syi’ar-Nya dalam beberapa ayat:
وَمَنْيُعَظِّمْحُرُمَاتِاللهِفَهُوَخَيْرٌلَهُعِنْدَرَبِّهِوَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَمَنْيُعَظِّمْشَعَائِرَاللهِفَإِنَّهَامِنْتَقْوَىالْقُلُوبِوَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Pengagungan terhadap syiar Allah merupakan bagian dari ketakwaan, dan menjadi salah satu indikator diterimanya ibadah seseorang.
Melihat bagaimana Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menjalankan hajinya dengan penuh ketenangan dan penghormatan terhadap seluruh manasik, kita memahami bahwa haji mabrur adalah ibadah yang dilaksanakan dengan hati yang khusyuk, penuh kesabaran, dan banyak dzikir kepada Allah.
Ingin berangkat umrah dengan pelayanan terpercaya, nyaman, dan sesuai tuntunan sunnah?
Segera konsultasikan rencana ibadah Anda bersama Sabatours.
Hubungi sekarang: 0817 7510 0981
Kami siap membantu perjalanan umrah Anda dari awal hingga akhir.
